Lembar- dari lembar kehidupan setiap hari terbuka, dan kosong, putih, dan bersih, dan kita diberi kebebasan untuk mengisi dengan apa saja, Dengan suka, pesta pora, kesedihan, kejahatan, kebaikan, dan semua itu terserah kita, setelah berapa lama, lembaran- lembaran hidup kita menumpuk di pojok sebuah ruangan yang luas, luas sekali dimana terdapat juga banyak orang di situ sambil membaca dan mengamati lembaran-lembaran hidup mereka, ada yang menangis, ada yang terkejut, ada yang tertawa..
Mereka adalah orang –orang yang swdang melihat kembali jalan hidup mereka, mereka adalah orang yang kembali melihat sebentar, merenungkan dan belajar dari semua itu. Ada juga orang yang selalu berada di situ, mereka seakan tidak bisa melanjutkan hidup merekan karena masa lalu mereka, cerita2 yang mereka tulis sendiri pada lembaran2 kehidupan mereka.
Aku terus berjalan menyusuri lorong demi lorong yang luas, dan aku menemukan setumpuk lembar kehidupan yang di atasnya terdapat namaku. Aku segera mendekati dan membacannya, Tumpukan itu sangat lumayan sedikit dibandingkan tumpukan2 yang lain. Di situ aku mempelajari banyak hal semuannya telah terjadi di kehidupanku, Ku ambil lembar demi lembar dan ku baca, sesekali aku berfikir, betapa bodohnya aku, betapa egoisnnya aku, betapa jahatnya aku, betapa tegannya aku, betapa cerobohnya aku, betapa lemahny aku terhadap cobaan2 di dunia ini,
Sesekali juga aku merasa, aku ini kuat, aku ini tidak lemah, aku ini baik, Tetapi apa daya semua itu telah terjadi. Aku kembali membaca dan terus membaca dimana setiap lembar kehidupan yang kuisi selama ini penuh dengan tinta2 kebohongan, kemunafikan, gengsi, dan juga ketamakan, Saat ku baca aku ingin sekali marah pada diriku sendiri, dan aku tidak percaya apa yang telah kulakukan, berapa banyak orang yang telah aku lukai, berapa banyak orang yang telah kurigikan dengan kehadiranku di tengah –tengah mereka.
Aku menangis di pojok lorong itu, terus menangis, serasa aku telah menyesal dengan hidupku, menyesal dangan segala perbuatanku.. Sampai sebuah suara berkata “Anakku..kau telah melihatnnya, kau juga telah menyadarinnya, tidak ada gunannya kau sesali itu terus-menerus, kembalilah…… dan lihat apa yang telah Ku siapkan untukmu dan kali ini perbuatlah dengan baik….”
Akhirnya aku kembali dan saat hari yang baru muncul, datanglah selembar lagi lembar kehidupan di hadapanku, dan aku tidak akan menyia-nyiakan lagi lembaran itu…….
(Mas ganteng 08)